Agama - Sains

"Versi tumpengan" (ada 2 tulisan dengan inti kurang lebih sama, pada level analisis yang berbeda)

Agama - Sains

Image by Johnhain from Pixabay 

SM Damar Panuluh

Founder of symbolic.id.

Pecinta teka-teki Observable World.

 

Terasa bahagia, bisa ikut ngombyongi percakapan sains di ruang publik.  Kemeriahannya begitu menyegarkan serta menumbuhkan harapan. Paling tidak untuk saya. Tak boleh rakus tentunya, secukup keperluan saja. Keikutsertaan saya lewat catatan-catatan remeh ini, anggap saja sekadar kudapan, di tengah makan besar penuh gizi yang tersaji prasmanan.

 

Semula saya berencana menyambung topik “generasi larva” yang ditulis tahun 2008. Sudah lampau. Tak dinyana, butuh sepuluh tahunan untuk riset, seraya membangun pemahaman yang memadai untuk membangun hipotesis. Tapi itu akan saya mulai cicil pada tulisan berikutnya.

 

Untuk kali ini, saya ingin menanggapi terlebih dahulu komentar seorang teman, yang menurut saya, penting untuk dijawab.

 

Usai membaca tulisan soal sains kemarin, dia penasaran dengan letak dan guna agama, saat banyak hal terkesan sudah tuntas diulas sains. Sementara sejak kanak-kanak, kita lazim diasupi dogma kebenaran mutlak agama. Serba lengkap, serta mampu menuntas semua teka-teki. Namun, kenapa gelagapan saat dihadapkan pada persoalan covid-19? Penganutnya hanya bisa diajak kembali menuju aksioma dasar, yaitu berlaku pasrah dan percaya saja. Ini tentu saja tidak salah, tapi dia berharap ada rekomendasi praktisnya juga.

 

Pertanyaan tersebut terasa murni dan tanpa pretensi. Itu tangkapan saya. Dia berani jujur melihat persoalan berdasar rentang pemahaman yang dimiliki. Dan ini merupakan modal penting untuk bisa melangkah maju. Mengetahui, diawali dengan tahap tidak tahu. Bukan dari percaya atau tidak. Lacurnya, bukan hal mudah untuk mengakui, bahwa kita tidak tahu.

 

Ketidaktahuan merupakan semesta yang jauh lebih luas dari ‘merasa’ mengetahui. Tapi itu bukan alasan untuk menyerah. Sebab semesta ketidaktahuan itu bukan batas mati yang menghalangi pertumbuhan kita. Sedikit demi sedikit, kita bisa mengumpulkan pengetahuan, menata pemahaman yang belum lengkap. Ini siasat efektif untuk mempersempit semesta ketidaktahuan itu.

 

Disini saya akan mencoba menulis pemahaman saya terhadap pemetaan agama dan non-agama pada hidup manusia. Tentu berangkat dari pengetahuan yang tak lengkap. Ini adalah hipotesis. Siapkan garam, sambal dan saos mu sendiri untuk masakan ini

 

Aksioma

Ada sejumlah asumsi dasar yang perlu dielaborasi, demi membangun hipotesis. Untuk soal yang dipertanyakan teman tadi, saya mengawalinya dengan membagi anasir manusia menjadi 4 lapisan yang saling bertaut. Satu sama lain memiliki hubungan dan ketergantungan.

 

Unsur pertama adalah Diri Sejati. Bisa nyrempet dengan citta, atau ‘distorsi emanasi’. Kedua yaitu memori atau data, mirip konsep manas. Ketiga ialah Aku, istilah miripnya bisa menggunakan ahankara, sentience, atau identitas. Sedang yang terakhir adalah Akal, alias buddhi, bisa juga logika.

 

Diri sejati

Banyak model yang bisa digunakan untuk menjelaskan unsur ini, dengan berbagai jarak, sudut, serta macam-macam cara pandang. Namun, itu semua tak akan pernah bisa menggambarkannya dengan akurat. Alasannya akan jelas ketika peta hipotesis sudah terbangun.

 

Memori atau data

Dalam diri manusia, tersimpan data yang luar biasa berlimpah. Paling familiar adalah data di kepala yang terkumpul sejak lahir. Lazim dinamakan ingatan.

 

Selain itu, terdapat data genetik yang bisa digunakan untuk melacak balik hingga manusia pertama. Adanya sel tubuh juga terkandung data, yang terbangun sejak makhluk bersel satu hadir. Kemudian data atom, yang bila diusut sampai berujung pada permulaan jagat raya. Ada juga data karmic, yakni konsep data yang didapatkan dari pengalaman dan keputusan manusia. Mereka terkumpul di bawah sadar, refleks, dan wahana-wahana lain. Bahkan badan juga punya bekas luka untuk merekam data yang terjadi dengan tubuh kita. Sangat banyak data tersedia, walau kita hanya terbiasa mengakses data yang ada di kepala saja.

 

Aku.

Ragam data tadi mendasari hal yang biasa kita sebut sebagai ‘Aku’. Kumpulan memori yang tertata sedemikian rupa. Inilah, yang disadari atau tidak, menjadi aksioma dasar saat kita berinteraksi dengan lingkungan. Data pada genetik memberi warna kulit ataupun jenis rambut, data di sel memberi jenis metabolisme, data pengalaman melandasi kita bersikap, dan lain sebagainya. Akumulasinya disederhanakan menjadi ‘Aku’.

 

Akal

Keberadaan unsur ini, memungkinkan manusia untuk mengenal diri sendiri. Menengarai kebutuhan bersosial. Menggunakan bahasa sebagai piranti interaksi. Atau paling tidak, dengan bertukar sinyal satu sama lain. Akal juga menjadi persemayaman logika. Yakni, metode berpikir dan deduksi. Kekhasan yang menjadi pembeda manusia dengan makhluk lainnya.

 

Interplay

Akal mesti berpondasi ‘Aku’, agar bisa bekerja. Sebab kemampuan dasarnya adalah memilah satu dengan yang lain. Bisa membedakan aku dan kamu. Inilah properti pokok yang saya sebut sebagai akal.

 

Ketika akal bekerja makin tajam, pembedaan dilakukan dengan dengan lebih presisi. Mampu menggolongkan apapun yang dialami, menjadi komponen-komponen terpisah. Senantiasa detail. Kecenderungan serupa ini jugalah yang mendasari sains untuk berkembang hingga semaju sekarang.

 

Akumulasi data juga diperlukan sebagai landasan sehingga ‘Aku’ menjadi ada. Minimal data genetik dari kedua orang tua. Tanpa itu, ‘Aku’ tidak akan mewujud. Untuk memadukan seluruh data tadi supaya saling berkelindan, dibutuhkan lapisan yang lebih inti lagi. Dihipotesakan sebagai Ruh, serta nyawa.

 

Jadi, alurnya kurang lebih begini: Diri sejati - memori - aku - akal.

 

Ada sifat dasar yang berbeda dari Diri sejati dengan yang lain. Diri sejati tidak dikumpulkan di dunia. Sedang yang lain, adalah memori yang diakumulasi sejak adanya jagat raya.

 

Letak Science.

Sains berikut metode ilmiah yang menyertai, bertumpu pada kemampuan akal. Segala yang ditangkapnya, diringkas menjadi model untuk dipahami akal. To make sense of the world.

 

Akal membenci ketidakpastian. Maka pembangunan model dengan tingkat akurasi prediksi yang tinggi menjadi penting. Melaluinya, aksi manusia dapat tertata, sebab bisa memperkirakan akibat dari sebab yang akan dilakukan. Tindakan-tindakan menjadi terukur, bukan acak bak main dadu.

 

Sains juga ditopang objektivitas. Karena yang diamati adalah dunia luar hasil tangkapan sensor, maka model berperan penting dalam menuntun manusia untuk mengerti cara alam bekerja. Sifat model itu pun mesti universal, sehingga bisa berlaku pada semua manusia.

 

Kemudian, objektivitas selalu memerlukan pendapat banyak pengamat. Perlu didiskusikan. Ibarat rumus, dia bisa dikaji bersama. Seperti eksperimen, dia memungkinkan direplikasi. Karenanya, simbolisasi melalui bahasa menjadi penting sebagai alat untuk memperbincangkannya. Semua itu tidak hanya harus masuk akal, tapi juga mesti niscaya terekspresikan melalui simbolisasi bahasa. Linguified-consciousness.

 

Fungsi penting dari simbolisasi bahasa tersebut, tercatat pula dalam kitab suci. Penyampaiannya dibalut kisah tentang manusia pertama, yang diminta untuk menyebut nama-nama benda. Kemampuan inilah yang lantas menjadi garis demarkasi, pembeda manusia dengan makhluk lain.

 

Susah dielak, bahwa model yang dibangun sains telah menyumbang manfaat besar bagi kehidupan manusia. Segala sesuatu tidak lagi acak seperti evolusi. Melalui model-model itu, Sains bisa mengeliminasi berbagai kemungkinan ‘salah. Pendeknya, Sains mencoba menjawab how the world works!

 

Letak Agama

 

Masing-masing manusia memiliki kelengkapan memori yang bisa dilacak hingga awal penciptaan jagat raya. Tapi hanya sedikit yang mampu membawa memori tersebut pada lingufied-consciousnes. ‘Lotre genetik’ yang pernah terjadi pada regenerasi manusia, membuat kekhasan kemampuan seperti ini tidak terbagi rata.

 

Sekali waktu, muncul orang-orang berkemampuan khas itu, yang mampu mengakses informasi hingga pangkal penciptaan secara gamblang. Mereka memahaminya dengan sangat jelas, menggunakan komponen data yang dimiliki. Menurut saya, mereka lah yang kemudian disebut panutan-panutan spiritual.

 

Pekerjaan manusia-manusia berkemampuan khas tersebut, tentu sangat berat. Mereka mesti merangkum memori yang begitu banyak dan komprehensif, lalu mengalirkannya ke bahasa manusia yang terbatas. Apalagi pintu masuknya lewat akal yang juga terbatas. Apalagi, model tiap akal itu berbeda, dan memiliki batasan masing-masing. Ini juga yang membuat informasi bawaan mereka rentan distorsi, ketika diserap oleh akal yang berbeda. Tapi apa daya, hanya itu jalan yang tersedia.

 

Perbedaan paling kentara, antara mereka dengan manusia lain adalah kemampuan menyadari setiap memori yang ada dalam diri. Sebab pada dasarnya, kita semua sudah memiliki data yang relatif sama lengkapnya.

 

Karena itulah, ajaran agama senantiasa mengajak manusia untuk menyelami data yang ada di diri, agar itu bisa teralami. Ibarat resonansi dari dua garputala. Satu terletak di dalam diri, sedang lainnya terdapat di luar. Agama mencoba menabuh dari luar, sehingga garputala data yang ada di dalam diri turut bergetar, lalu mendapat perhatian pemiliknya. Ujungnya, manusia bisa mengalami sendiri rangkaian data yang terulur panjang hingga era penciptaan. Dengan kata lain, dia bersaksi atasnya.

 

Alur tersebut, setahu saya, selaras dengan syahadat dalam Islam yang mengajak untuk bersaksi, bukan sebatas percaya. Sebab keduanya merupakan konsep yang sama sekali berbeda.

 

Agama tidak mengutamakan pengetahuan tentang dunia luar. Namun lebih mengajak untuk mengalami semua data dalam diri, hingga ke akarnya. Dalam Islam, konsep tersebut tersitir pada hadits, “Siapa yang mengenal dirinya, maka mengenal Tuhannya.”

 

Karenanya, area tempat Agama berperan, bukan pada akal ataupun objektivitas, melainkan di ranah data. Memori. Itu pendapat saya. Meski demikian, akal tetap menjadi komponen penting dalam Agama.

 

Agama mencoba berkutat dengan why, mencari jawab soal maksud penciptaan manusia, dan dunia seisinya.

 

Interplay 2

 

Pengalaman sejak kita kecil, sudah terlanjur menyebut bahwa pusat keberadaan manusia terdapat pada akal. Sedangkan akal sendiri hanyalah anak dari identitas. Dia rentan diperbudak identitas tersebut.

 

Kebanyakan perdebatan bermula dari pembelaan kebenaran atas ‘Aku’, atau si identitas itu. Rasialisme juga bisa dikatakan berasal dari akar yang sama. Sains sudah berupaya melepaskan diri dari itu. Objektivitas dijunjung tinggi, sehingga saat ini, data lebih penting ketimbang yang lain.

 

Agama memiliki arah yang berbeda, bila ditilik dari sudut pandang pertumbuhan manusia. Terutama, jika disorot berdasar perspektif Diri Sejati atau Citta. Data, identitas, dan akal, lebih berlaku bak penjara yang menghalangi pancaran inti. Tapi di sisi lain, ketiga hal itu juga merupakan kendaraan manusia untuk mencapainya.

 

Di sinilah dinamika perjalanan spiritual terjadi. Mengolah dan mengalami komponen-komponen itu sedemikian rupa demi perjalanan kesadaran. Dari kesadaran bahwa pusat keberadaan diri ada di akal, menjadi pusat keberadaan diri ada di yang sejati. Yang tidak bersandar pada akumulasi memori di dunia.

 

Semuanya penting. Sama-sama dibutuhkan. Yang bukan sejati, jangan dibuang. Tapi ditempatkan sesuai letak, setepat mungkin. Sepemahaman saya, meremehkan sesuatu yang dianggap tidak sejati justru menyusahkan perjalanan memahami kesejatian.

 

Kembali pada soal aksioma Diri Sejati yang tertera pada awal tulisan ini. Diri sejati tak akan bisa dideskripsikan oleh bahasa manapun dengan akurat. Dia hanya bisa dialami. Itu pun sangat personal dan objektivitasnya tak bisa diuji. Karena memang alur data tiap orang memiliki keunikannya sendiri.

 

Ketika tidak semua data dan fenomena di dunia bisa disimbolkan melalui bahasa, apalagi apa yang ada di baliknya.

 

Tentang hidup

Pada peristiwa yang telah berlangsung, disitu kebenaran fakta yang paling mudah dijangkau manusia. Ketika sesuatu sudah terjadi, berarti dia tidak melanggar hukum alam, patuh pada kaidah sebab-akibat, biasanya sesuai dengan model Sains. Juga sekaligus diizinkan Tuhan, selaras dengan pemahaman Agama. Ketidaksukaan manusia pada kejadian itu, tidak lantas melemahkan konsep tersebut. Perlu dicatat, ini semua bukan tentang baik-buruk, atau benar-salah menurut manusia.

 

Dengan semua kelebihan yang dimiliki, manusia sangat boleh menilai segala kejadian. Bisa suka, atau tidak suka. Boleh juga memberi pertanyaan: bisakah menjadi lebih baik? Bisakah dieliminasi kekurangannya? Bisakah ditata ulang? Dan lain sebagainya.

 

Pada tahap inilah kemanfaatan manusia diuji.

 

Sains dan Agama

Sains dan Agama sama-sama memiliki peran. Agama memberi kita kewaspadaan terhadap koherensi keberadaan diri sampai ke asal. Semua memori untuk membangun koherensi sudah tersedia, tinggal mau menggalinya atau tidak. Koherensi yang mengakar menjadi sangat penting, karena hanya itu yang bisa memastikan perjalanan akan selalu harmoni dengan segala ciptaan. Pada rentang ruang dan waktu yang kita sendiri tak mampu membayangkan.

 

Sementara Sains memasok metodologi kepada kita, untuk memprediksi apa  yang akan terjadi. Untuk menata kehidupan manusia, prediksi Sains yang dijaga koherensi Agama, menurut saya akan lebih efektif ketimbang berjalan sendiri-sendiri.

 

Tapi, tentu saja, semua tergantung tujuan si manusia pengampunya. Mau apa? Mimpi, berkeluh kesah, menunggu dewa penolong, atau berani tandang? Atas itu semua, kita semua punya hak untuk menjawabnya.

 

18 juni 2020