SURAT SUNYI UNTUK KEKASIH
SURAT SUNYI UNTUK KEKASIH
Adalah rasa yang dibiarkan terus bergejolak tanpa tau alur. Menapak kesunyian hati dari aroma kekasih yang hanya terlintas lewat sajak yang hanya dibaca berulang tanpa pernah tau jalan pulang.
Sarah adalah seorang perempuan yang sedang menunggu kekasihnya datang. Lewat angan yang dibangun. Setiap pagi ia tak lupa menyisihkan waktu untuk membuat bekal; sebakul istigfar dan semangkuk sholawat. Berharap sore hari kekasihnya pulang dengan seonggok kenang yang pernah dibangun dalam biduk petualang.
Sudah lama Sarah merindukan kabar kekasih yang hilang; setelah perpisahan yang tak ber-aba. Waktu begitu cepat baginya dari 2016 hingga 2021 pertemuan yang hanya dua kali namun tidak dapat ia lupakan. Ia tahu jika kekasih telah berlabuh didermaga seberang. Namun ia tetap merasakan kehangatan yang sama seperti dulu. Hidup dan menghidupkan jiwanya yang gersang.
Surat untuk kekasih
Telah terbaca jika kata tak lagi saling-silang maka tulisan adalah penenang. Bukan bentang jarak, namun tentang kedekatan; jiwa yang tak berjarak. Jauh pun begitu terasa dekat. Semakin aku membaca semakin aku paham, semakin aku meresapi semakin aku mengertim bahwa; tulisan yang tak kunjung datang adalah sebesar-besar ungkapan yang tak dapat tertuliskan. Dan itu adalah penyesalan ketika aku terburu-buru menuliskan dengan pena.
Bukan tentang ikhlas dan mengikhlaskan, bukan tentang dendam yang tak terbalaskan. Tapi tentang kenyataan bahwa kita sama-sama memilih laku diam, hening, menepi. Maka dari itu Tuhan yang maha adil akan menebar percikan cahaya di relung berbeda. Jika dulu aku pernah mengatakan “burung akan bersandar pada ranting pohon yang sama”, maka itu adalah kenyataannya. Mungkin dari ini akan saling memahami bahwa sama bukan berarti benar-benar berbeda. Laku yang kita jalani adalah kesamaan dan pasangan hidup adalah perbedaan. Dan itu adalah takdir Tuhan yang tak dapat terhindarkan. Kecuali Keikhlasan.
Balasan puisi dterima Sarah melalui selebaran. Baginya balasan adalah baik-baik obat kerinduan atas kepulangan.
Hikayat Pemburu Jerung
1/
Ia telah mencium asin sisik jerung
Tak ada amuk laut yang sanggup lolos
Dari bidik tombak mata randu
Juga tari-tari ikan jerung yang kawin
Di tengah laut
Bila ombak mata randunya telah bernyanyi
Pertanda kemenangan yang gemilang
Meledak-ledak di kampung; di meja-meja
Yang tak mengerti bahasa
2/
Mungkin hanya ia yang mengerti
Mengapa nelayan di kampung makin sedikit
Jala disimpan, baju di kemas, lalu kekota
Karena siapa yang akan menelusuri sejarah
Di tubuh seekor ikan terpanggang ?
“Laut hanya jalan tanpa lajur,” katanya.
Sebelum cerita kepahlawanan berhenti
Mendengung di lapak-lapak tuak
Laut akan sesepi kubur batu
Cerita di balik asin tongkol, kerapu, karang
Hanya bisik-bisik di batin sembahyang pemburu
3/
Hanya ia yang mengeri mengapa
Melaut adalah jalan sunyi
“Apa yang lebih sunyi dari sunyi ?”
Tak berjawab kecuali angin
Dibelah tombak mata randu ke jantung laut
Saat tak nampak alir darah jerung ke permukaan
Hanya ia yang tahu
: waktu terbaik untuk pergi ke kota
Angke, 2020
CDVT
Lagu Jeda Untuk Kekasihmu
Aku akan hidup di tubuh kekasihmu
Kucintai aroma kembang di dadanya
Bila kutuk kebo kemale terikat erat
Aku ingin kau mati tanpa diminta
Jangan mengusikku, aku adalah dirimu
Yang culas;
Nafsumu yang panas
Lewat bintik-bintik merah di pipi kekasihmu
Aku akan jadi nyala api, penuh gemeletak
Kayu di hangat perhawuan
Karena pengantin yang cemas
Adalah kayu kering
(sebaik-baik tempat sembahyang)
Bila sisih kapat tiba
Telah kubangun huma di keningnya
Aku butuh matamu untuk kerlip lelampu
Juga ikal sepasang kekasih
Di masa lagit hujan cahaya
Aku ingin kau tak menangis
Sebab aku dan kekasihmu adalah penari
Yang kondang di lereng gunung welirang
Tak perlu bersedih
Aku adalah biji doa yang kurang ajar
Tumbuh di tanah gambut
Jangan! Jangan coba menerkaku
Aku bukan buruk muka gatholoco;
Penguji keimanan yang getas
Lengkapi saja tarianku dan kekasihmu
Dengan kematianmu
Sekali lagi
Sehabis malam berlesatan
Dan ning menetes sepi, kau akan tahu
Apa-siapa jarak dan namaku yang sebenarnya
Jakarta, 2019-2020
CDVT
Tidur Putih
Bagaimana rasanya menjual saraf tidur
Kepersekongkolan bangsa-bangsa ?
Sebuah plakat kau gantung di dinding
Sejak saat itu malam jadi tak biasa
Aku bisa mengerti mengapa ingatan
Kau bimbing diantara kebun-kebun cabai
Dan cinta yang tak kau tahu di mana ujungnya
Mengajarimu tidur dalam keadaan buta
Aku bisa mengerti mengapa tidur putih
Masa kecil itu kau tangisi sampai sekarat
Sebuah plakat bergambar topeng bali
Adalah jalan lurus yang menuntun
Orang-orang kampung belajr berdusta
Apa guna saraf tidurmu
Dan persekongkolan bangsa-bangsa
Untuk apa ?
Jakarta, 2020
CDVT
Muslihat Gunung
Jangan membakarku dalam sekali panggang
Kasihani aku
:kayu-kayu basah dari ranting mati
“kau ingin mati dengan cara apa ?”
Tanya bibir pedasmu di suatu ketika
Maafkan! Aku hanya bukit di punggung arjuna
Yang penuh jalan stapak penyesat;
Muslihat pemburu agar bibirmu terkunci
Di padang Lalang
Dalam halimun, kuputong arah
Di alas lali jiwo
Aku akan mencegat dan menguncimu
Agar kembali memanggangku
Dalam sekali kecupan
Bila kau bertemu jalan pulang
Aku bukan lagi ranting pohon mati
Aku jalan menurun
Yang sabar menerima hujan
Tangis dari setiap kehilangan
“kau ingin berpsisah dengan cara apa ?”
Tak ada penjelasan
Tak perlu dijelaskan
Jakarta, 2020
CDVT
Cerita di Bilik Perbatasan
Dzat kita menyatu
Sejengkal jarak dari pertemuan batin
Yang kemalaman. Tubuh – jantung
Menepi dari jatuh cinta; mengungsi
Seperti luka perng saudara
Desahmu ngelangut. Tenanjang
Kota-kota yang tak punya pulang
Dan tidur siang yang sebentar
Mimpi akan akan ditenun dari kulit debu
Dilumasi keringat popor senapan
Saat kemarahan mengeras
Semiotika macam apa yang mapu
Mengeja kesunyian dadamu
Yang bantal ?
Sakit kepala ini, saying
Yang mengantar anak-anak kita yang tiada;
Cinta yang pergi tanpa aba-aba
Ketika tiadatubuhku dibilikmu
Apa kau ingat caramu mengajariku
Menjahit tubuh kita dengan melankolia
Jakarta, 2019
CDVT
Puisi-puisi kekasih menjadi obat kala rindu kepulangan tak kunjung datang. Lewat tulisan dan goretan ungkap yang tak dapat dibaca selain Ia dan Dia. Sajak sambung - bersambung antara Sarah dan kekasih adalah sebenar-benar surat sunyi yang terpanjat.
-oOOo-
Oleh Imroah
Lahir di Kediri, kini tinggal di Surabaya sebagai guru dan pembelajar kejurnalisan,
dan penulis rubrik dibeberapa media online.