NEGERI cEMAS: KRISIS KEPERCAYAAN

Kesombongan tumbuh pelan-pelan, sampai manusia kehilangan kemampuan untuk merasa salah. Lalu negeri cemas berjalan menuju gelapnya, dengan wajah - wajah yang masih sibuk merasa dirinya paling benar.

NEGERI cEMAS: KRISIS KEPERCAYAAN

Negeri cemas hari ini tidak hanya sedang mengalami pelemahan ekonomi,
krisis politik,
atau krisis moral.

Ia sedang mengalami sesuatu yang jauh lebih sunyi:
krisis kepercayaan.

Dan ketika kepercayaan mulai retak,
manusia perlahan hidup saling curiga.

Curiga kepada pemerintah.
Curiga kepada hukum.
Curiga kepada media.
Curiga kepada tetangga.
Bahkan kadang curiga kepada dirinya sendiri.

Dunia terasa semakin ramai,
tetapi hubungan antarmanusia semakin rapuh.

Orang-orang berbicara lebih banyak,
tetapi semakin sedikit yang benar-benar dipercaya.

Media sosial mempercepat semuanya.

Kebohongan bercampur fakta.
Fitnah bercampur opini.
Kemarahan bergerak lebih cepat daripada klarifikasi.

Setiap hari manusia dibanjiri:
skandal,
manipulasi,
pengkhianatan,
dan pertunjukan kepentingan yang dipertontonkan terang-terangan tanpa rasa malu.

Lalu masyarakat tumbuh dengan kelelahan batin yang tidak terlihat.

Mereka mulai sulit percaya bahwa:
hukum benar-benar adil,
pemimpin benar-benar berpihak,
dan sistem benar-benar dibangun untuk melindungi rakyat kecil.

Negeri ini kadang terasa seperti sedang berdiri di tepi jurang yang panjang.

Ekonomi gelisah.
Masyarakat lelah.
Kepercayaan retak di banyak tempat.

Tetapi sedikit sekali kerendahan hati tumbuh di tengah keadaan seperti ini.

Orang-orang terus tampil dalam kesombongannya sendiri.

Pidato tetap tinggi.
Panggung tetap megah.
Kata-kata tetap terdengar penuh keyakinan.

Sementara di bawahnya,
rakyat kecil sibuk bertahan hidup dari hari ke hari.

Banyak manusia hari ini terlalu keras kepala untuk mendengar.

Nasihat datang dianggap angin lalu.
Kritik dianggap serangan.
Suara kebaikan dianggap gangguan bagi kepentingan.

Dan manusia yang terlalu lama hidup dekat kekuasaan,
perlahan kehilangan kemampuan mendengar denyut kehidupan rakyat kecil.

Padahal negeri tidak dibangun dari ruang-ruang rapat saja.

Ia berdiri dari:
keringat pedagang kecil,
buruh yang pulang malam,
petani yang menjaga sawah,
dan rakyat biasa yang setiap hari tetap bekerja meski hidup semakin berat.

Tetapi mereka terus dihajar dari banyak arah.

Upeti kecil yang tak selesai-selesai.
Peraturan yang berubah semaunya.
Kebijakan yang terasa jauh dari kehidupan nyata.

Rakyat dipaksa mengerti keadaan,
sementara keadaan jarang benar-benar mencoba mengerti rakyat.

Dan lucunya,
semua masih dibungkus dengan kata-kata:
demi pembangunan,
demi kemajuan,
demi kepentingan bersama.

Padahal banyak manusia kecil mulai kehilangan tenaga untuk percaya.

Di ruang-ruang kecil kehidupan,
krisis itu ikut menjalar.

Suami istri saling menyimpan curiga.
Anak sulit percaya kepada orang tua.
Rakyat tidak percaya pejabat.
Pejabat takut kepada rakyat.
Dunia usaha ragu kepada negara.
Negara lain mulai berhitung terhadap stabilitas sebuah bangsa.

Dan ketika kepercayaan melemah,
masyarakat perlahan berubah menjadi kumpulan manusia yang hidup dalam mode bertahan.

Orang menjadi lebih keras.
Lebih defensif.
Lebih mudah marah.
Lebih mudah membenci.

Karena hati yang kehilangan rasa aman,
akan sulit tumbuh menjadi tenang.

Leluhur dahulu membangun peradaban bukan hanya dengan:
batu,
senjata,
atau kekuasaan.

Tetapi dengan:
amanah.

Sebab kepercayaan adalah pondasi paling sunyi dari sebuah bangsa.

Pasar bisa hidup karena percaya.
Keluarga bisa bertahan karena percaya.
Negara bisa berdiri karena percaya.

Tanpa itu,
segala sesuatu hanya menjadi kerumunan manusia yang saling menjaga jarak sambil berpura-pura baik-baik saja.

Negeri ini sebenarnya dihuni rakyat-rakyat yang tangguh.

Terlalu tangguh bahkan.

Mereka terbiasa:
menahan lapar,
menahan kecewa,
dan tetap tersenyum meski hidup berkali-kali menghantamnya.

Tetapi sampai kapan manusia mampu bertahan,
jika terus menerus diinjak oleh keadaan yang tidak pernah benar-benar berpihak kepadanya?

Karena bahkan tanah yang paling kuat pun akan retak,
jika terus dipukul tanpa henti.

Dan barangkali yang paling menakutkan bukan ketika ekonomi melemah.

Melainkan ketika manusia mulai terbiasa hidup tanpa percaya kepada siapa pun.

Bangsa yang kehilangan kepercayaan,
perlahan akan kehilangan:
ketenangan,
persatuan,
dan harapan terhadap masa depannya sendiri.

Krisis itu tidak lahir dalam satu malam.

Ia tumbuh sedikit demi sedikit:
dari janji yang diingkari,
amanah yang dikhianati,
kebohongan yang dibiasakan,
dan hati manusia yang terlalu lama hidup jauh dari kejujuran.

Lalu negeri-negeri cemas dipenuhi manusia-manusia yang berjalan bersama,
tetapi diam-diam saling menjaga punggungnya masing-masing.

Dan bangsa yang kehilangan kerendahan hati,
sering kali tidak runtuh karena musuh dari luar.

Ia hancur pelan-pelan oleh kesombongan manusianya sendiri,
yang terlalu sibuk merasa paling benar,
sampai lupa mendengar suara-suara kecil yang sebenarnya sedang mencoba menyelamatkannya.

Rakyat di gang-gang sempit,
dan manusia-manusia di gedung tinggi,
diam-diam menyimpan kegelisahan yang sama.

Penjual kaki lima yang dagangannya mulai berkurang.
Pemilik usaha yang harus memikirkan ribuan karyawan.
Anak muda yang bingung melihat masa depan.
Orang tua yang mulai takut membayangkan hidup generasi setelahnya.

Mereka mungkin berbeda pakaian,
berbeda kendaraan,
berbeda ruang hidup,
tetapi sama-sama menyimpan kepedihan ketika memandang arah negeri ini.

Karena yang melelahkan bukan hanya persoalan hidup pribadi.

Melainkan melihat wajah negeri yang terus dipenuhi:
penjilat,
kesombongan,
dan kebodohan yang dipelihara terlalu lama sampai tidak lagi terasa sebagai kebodohan.

Orang-orang sibuk mempertahankan kursinya sendiri.

Saling memuji demi jabatan.
Saling diam demi kepentingan.
Saling membenarkan demi lingkarannya.

Dan yang paling menyedihkan,
banyak manusia tidak lagi sadar bahwa dirinya sedang menjadi bagian dari kerusakan itu sendiri.

Kesombongan tumbuh pelan-pelan,
sampai manusia kehilangan kemampuan untuk merasa salah

Lalu negeri cemas berjalan menuju gelapnya,
dengan wajah - wajah yang masih sibuk merasa dirinya paling benar.