Menyoal (Ilmu) Api
Pasinaon Purwa #1
image from flickr by Andrea Kirkby
Oleh: Rahadian Asparagus
"Kenapa wajahmu memar, Reng?"
"Asem tenan kok, Truk. Orang aku tuh niatnya baik, eh, malah dijadikan bancakan bogem sama warga selatan padepokan".
"Lha kamu kenapa, Truk? Tangan dan kakimu kok diperban ?"
"Sama, Reng. Aku juga dipukuli sama warga bagian barat padepokan. Oalah nasib..nasib.."
"Eh, tunggu… itu Bagong kenapa bibirnya tambah ndower gitu ya, Reng?"
"Ho'oh Truk.., bajunya juga basah kuyup. Coba tanyakan, Truk."
"Kenapa bajumu basah kuyup gitu, Gong? Lagian kamu tuh ya lucu, dikasih tugas kok malah mbok tinggal renang..,"
"Renang ndasmu semplah kui, Truk.. Gimana ndak basah kuyup, aku diceburin warga ke kali.., mana sejauh mata memandang, kali itu isine mung t*i"
"Terus bagaimana hasilmu dengan warga bagian utara Padepokan, Gong?"
"Ya sudah jelas terpampang nyata, Truk.., gagal.."
"Ealah.., ya sudahlah kalau begitu. Kita pulang saja ke Karangkadempel. Kita lapor ke Bapak Semar tentang kejadian ini.."
***
Tersebutlah, sebuah padepokan bernama Argabelah. Padepokan tersebut didirikan oleh seorang Resi sakti bernama Bagaspati. Ia tergolong unik. Perawakannya menyeramkan bagai raksasa tapi tabiatnya penyabar dan sangat bersahaja.
Sifat sabarnya menjadikan ia sebagai salah satu dari tiga tokoh pewayangan yang darahnya berwarna putih. Pada golongan "Begawan Getih Putih" ini, ia berdampingan dengan kakak dari Resi Sugriwa yaitu Resi Subali dan Raja Amarta yaitu Prabu Puntadewa atau Yudhistira.
Sebelum menjadi Guru Besar, beliau adalah satria tampan pilih tanding bernama Raden Bambang Anggono putera Resi Jaladara dari padepokan Dewo Srono. Perihal buruk rupa wajahnya, diceritakan bahwa ia terkena kutukan dari Batara Guru karena telah berani mencintai Betari Uma istri dari dewa yang terlahir dengan sebutan Batara Manikmaya itu.
Betari Uma juga menjadi junjungan semua Betari di Kahyangan Jonggring Saloka. Tak mengherankan jika Sang Hyang Girinata, nama lain dari Batara Guru menjadi murka sekaligus kawirangan karena ada yang secara terbuka berani menyatakan cinta pada istrinya.
Setelah menerima kutukan, Raden Bambang Anggono menyepi di sebuah hutan bernama Nogobelah. Beliau terus merenungi segala kesalahannya dan tak henti-henti meminta maaf serta berdoa kepada Sang Hyang Widhi agar mendapat ampunan.
Rupanya kemarahan Batara Guru tak cukup sampai disitu. Batara Guru menyuruh penguasa hutan Nogobelah yaitu Nogobendoro untuk membunuh Bambang Anggono. Nogobendoro ini wujudnya hampir serupa dengan hewan mitologi Yunani yaitu Hydra, seekor naga berkepala sembilan yang jika dipotong satu kepalanya, maka akan tumbuh dua kepala begitu seterusnya dengan kepala yang lain.
Berkat semedinya yang gentur maka kakek buyut para dewa yaitu Sang Hyang Wenang memberikan anugerah pada Bambang Anggono berupa sinar putih yang membuat sang Naga terurai tubuhnya menjadi ribuan potongan daging. Ajaibnya, potongan-potongan daging sang naga menyatu dengan tubuh Bambang Anggono
Selanjutnya, potongan tubuh naga yang menyatu dengan tubuh sang resi menjadi ajian paling terkenal yaitu ajian Candrabirawa atau ajian Buto Bajang Sewu. Setelah kejadian tersebut Bambang Anggono merubah namanya menjadi Resi Bagaspati, dan hutan Nogobelah yang ditinggalinya diberi nama Padepokan Argabelah.
Semenjak itu padepokan Argabelah menjadi ramai. Banyak cantrik dari negara seberang belajar ilmu kanuragan, kesusastraan, ilmu alam, dan kebatinan dari sang Resi. Pada saat yang sama, sekelompok masyarakat dari luar hutan membangun pemukiman dan perniagaan di sekitar padepokan. Kawasan itu berkembang menjadi desa kecil yang mandiri dan makmur.
Resi Bagaspati menjadi panutan dan junjungan. Selain sakti, ia juga seorang ilmuwan yang mumpuni. Sang Resi berhasil menemukan rahasia bagaimana cara membuat api. Diajarkannya ilmu itu kepada murid-muridnya dan masyarakat di sekitar padepokan.
Namun demikian, sampai akhir hayatnya, belum semua masyarakat dan para muridnya bisa memanfaatkan api secara benar. Ironisnya, mereka justru terbagi ke dalam empat kelompok yang memberikan tanggapan berbeda. .
Kelompok pertama, kebanyakan adalah murid langsung Sang Resi dan bermukim di selatan area padepokan. Kelompok ini menganggap hanya orang tertentu yang boleh memahami ilmu api. Mereka khawatir terjadi penyalahgunaan dan penyelewengan ilmu.
Kelompok kedua; tidak terlalu mengerti cara membuat dan memanfaatkan api namun percaya bahwa api itu penting. Akhirnya, mereka lupa cara membuat api, dan menggantinya dengan menyembah alat-alat yang digunakan serta patung Resi Bagaspati. Mereka bermukim di utara Padepokan
Nyaris sama dengan kelompok kedua, kelompok ketiga juga tidak mahir membuat api. Namun bukan patung yang mereka ciptakan melainkan mitos dan legenda tentang kesaktian serta keajaiban-keajaiban yang pernah dilakukan Sang Resi. Kelompok ini menghabiskan sisa hidupnya di sisi barat padepokan.
Hanya kelompok keempat yang tinggal di sisi timur. Jumlah mereka sangat sedikit ini namun paham betul cara membuat dan memanfaatkan api.
***
Itulah mengapa Semar, meminta ketiga anaknya yakni Gareng, Petruk, dan Bagong untuk menasehati dan menunjukkan jalan yang benar bagaimana cara membuat api. Semar sangat menyayangkan apabila ilmu itu tidak dimanfaatkan sebagaimana mestinya.
Di kelompok pertama, di selatan padepokan, Gareng katakan bahwa yang berhak mendapatkan ilmu api tidak hanya murid-murid sang Resi. Masyarakat umum juga butuh ilmu itu demi tumbuh kembangnya peradaban. Bukannya mendapat persetujuan, Gareng justru dianggap SESAT. "Yang harusnya tahu ilmu api hanya kami ! Kamilah ahli sekaligus murid langsung sang Resi ! Kamu itu orang luar, tidak tahu apa-apa ! Pergi sana !". Tidak cukup di usir, Gareng mendapat bogem mentah hingga tubuhnya lebam..
Untuk kelompok kedua yang tinggal di utara padepokan, Bagong sampaikan bahwa menyembah alat-alat dan patung sang Resi itu keliru. Ditambahkannya bahwa tujuan Resi Bagaspati tak bukan untuk kemanfaatan masyarakat. Menurutnya, cara terbaik menghormati Resi bisa dilakukan dengan lebih memahami dan menyebarluaskan ilmu api.
Sama seperti Gareng, Bagong tak luput dari hujatan dan pukulan. "Adat ini sudah ada sejak jaman nenek moyang kami. Kamu itu siapa? kamu bukan golongan kami ! Tidak usah banyak bacot lah ! Kamu mau buat agama baru ya ?! Kualat kapok kon !". Begitulah sebagian kata-kata balasan dari kelompok kedua. Bahkan Bagong sampai dibuang ke kali dekat hutan.
Lain halnya dengan Petruk, dia bertemu kelompok ketiga di barat padepokan. Petruk berkata jika yang mereka lakukan itu melenceng dari tujuan awal sang Resi Bagaspati membuat api. Seharusnya, mereka temukan fungsi dan cara membuat api. Tapi apa jawaban dari kelompok ini? "Sudahlah jangan campuri urusan kami ! Biarkan cerita mitos, mistik dan legenda ini berjalan. Justru dengan cerita-cerita tersebut kami jadi bersatu ! Kamu ingin kami bercerai berai begitu ?! Kamu ingin menjajah kami dengan ilmu sok pintarmu itu ?! Pergi !". Petruk pun pergi dengan terhuyung-huyung. Tangan dan kakinya terkena sabetan benda tumpul saat mereka mengusirnya.
***
"Hmmm… jadi begitu ceritanya, Truk."
"Betul, Romo. Kami gagal meyakinkan mereka, Romo."
"Apa yang dikatakan Petruk itu benar, Mo. Tidak hanya diusir, kami juga dipukuli, Mo"
"Sabar Reng. Menjadi Ponokawan memang berat.., kita tak hanya menemani, tapi juga harus mencerahkan."
"Kok mereka bisa beda-beda gitu ya Mo.., padahal gurunya satu lho..,"
"Bagong.., anakku. Peristiwa di desa Argabelah adalah contoh bahwa sikap kita dalam menerima ilmu pengetahuan bisa sangat berbeda. Ada yang benar-benar mendayagunakan dan memanfaatkan untuk kehidupannya. Golongan lain menjadikannya eksklusif hanya milik para ahli dan sekelompok elite saja. Ada pula yang berlebihan memuja penemu ilmu dan pirantinya sampai lupa dengan ilmu itu sendiri. Selebihnya, ada yang membuat mitos dan legenda tentang penemunya. Hmmm…anak-anakku, berkacalah kalian. Dimana posisi kalian bila dihadapkan pada situasi tersebut."
"Baik Mo.., kami akan jadikan kaca benggala"
"Gong ! Dikandani Bapak malah matane merem !"
"Mbayangke Yellow River, Reng.."
"Asemik.., Bagong ki jan njijiki !!"
"Opo kui Yellow River, Truk?"
"Pun ndak usah dibahas, Mo.., ndak malah muntah."
---oOo---