SURAT SUNYI UNTUK KEKASIH (2)
Seri #2
Gambar oleh Lucija Rasonja dari Pixabay
Waktu berlalu, menit demi menit, detik demi detik. Sarah tetap pada perasaannya yang enggan pudar. Ia bak perempuan ceroboh yang menjual hatinya pada babi hutan, senang berkubang di lumpur kotor. Membebaskan hatinya dikubangi dan dipenuhi jejak-jejak kotoran.
“Aku tak peduli orang berkata apa! Aku tak ambil pusing. Sekalipun dianggap gila. Aku adalah jiwa yang akan hidup dalam wajah pasangannya kelak”, gumannya.
Malam yang gelap nan dingin. Sarah bergegas menutup pintu kamar dan bersiap tidur. Ia berharap malam itu menjadi malam-malam indah hingga menjelang subuh nanti. Menjadi pertemuan batin mereka.
Namun telponnya berdering. Tampak sabahat karibnya menelpon.
“Halo, Iya Des. Apa kabar, tumben malam-malam telepon ?”, sapa Sarah dengan lembut.
“Hai Sarah. Aku tiba-tiba rindu. Kamu baik-baik saja kan?”
“ Hai. Iya, aku sehat.”
“Kamu sudah dapat kabar tentang mas mu yang jauh diseberang ?”
“Ada apa, aku sudah lama tidak kontak dengannya.”
“ Benarkah ? Aku baru saja lihat di story-nya, dia tadi malam tunangan !”
“……………………..”, tanpa respon.
Sarah mengenang ketika memutuskan untuk tidak menghubungi kekasihnya. Tentang dialog yang pernah ia sampaikan. Tentang ungkapan perpisahan yang ia utarakan. Semuanya menjelma menjadi adegan demi adegan, hingga tak sadar air matanya menetes dengan cepat.
“Menikah adalah nasib, mencintai adalah takdir. Aku bisa merencanakan menikah dengan siapa, namun tak dapat kurencanakan cintaku untuk siapa.”
“Mas, aku sudah tunangan. Aku hanya ingin menyampaikan ini padamu.”
“Aku tidak meminta apapun atasmu, hanya berharap aku bisa mengungkapkan kata yang tak sempat diucap embun pada pagi. Tak sempat di ucap lumut pada lantai. Tak sempat diucap air pada padi.”
Telpon genggam yang tiba-tiba terjatuh di tempat tidur menyadarkan lamunan seketika. Suara Desi yang tedengar lirih. Dan kembali diambil dan melanjutkan percakaan.
“Sarah, kamu baik-baik saja ? Kamu masih disana kan ?”
“ I .. I.. iya Des. Aku sudah dengar kok. Lagian itu sudah keputusan kita bersama untuk berpisah. Meskipun tidak secara langsung. Syukur dia sudah menemukan yang terbaik. Ku kira ia tak mau nikah. Hahaha”, guraunya mencoba memecah keadaan.
“Baiklah, ku kira kamu belum tahu Sar. Oke deh, selamat istirahat ya, udah malem nih !”
“ Iya Des, mimpi indah ya. Hehehe”
Malam semakin larut, ternyata mata itu tidak mau menutup setelah mendengar kabar dari Desi, bahwa kekasihnya telah belabuh pada dermaga seberang. Sarah menjadi benci dengan mata tajam. Ia menulis di diary yang tersimpan di laci kamarnya.
Mata tajam itu menusuk jantung terdalam. Tak usah diceritakan tidak percaya pada cinta, terlebih pandangan pertama, tapi malam begitu pekat memberi sinar yang sampai hari ini tak dapat kulupakan. Entahlah magnet atau frekuensi itu menarikku kedalam alunan melodi yang beberapa kali kau kirimkan dan telah kuhapus. Semuanya masih menempel jelas betapa aku dipermainkan keadaan, rasa, dan kepercayaan.
Melawan dan mengeyahkan semua rasa yang diberikan Tuhan, mencoba mengubur tapi hanya berselang beberapa waktu mata tajam itu Kembali menusuk relung hati. Tentang terminal, aku benci terminal, kala harus ada pertemuan itu, aku benci janjimu yang selalu mengisakkan tangisku. Bukan aku berharap, tapi hanya menunggu kejelasan yang tak pernah kau ucap.
Bukunya ditutup, matanya semakin sembab mengenang perjalanan yang ia lalui memutar sebuah lagu perpisahan mereka. Dan matanya yang sayup tiba-tiba terpejam.
Hujan dan Kota---Hankestra
Karena sepi di musim hujan
Dalam lena air berjatuhan
Pada puncak resah kita putuskan
Hidup tak pasti terencana
Tanya kita kembali pada musim rindu
Ketika tubuhmu basah
Dingin kota mendekapmu
Ada aku di wajahmu
Kembali seperti dahulu
Kota menanti kekasih baru
Kota menanti kekasih baru
Tanya kita kembali pada musim rindu
Ketika tubuhmu basah
-oOOo-
Oleh Imroah
Lahir di Kediri, kini tinggal di Surabaya sebagai guru dan pembelajar kejurnalisan,
dan penulis rubrik dibeberapa media online.