GENERASI YANG SALING MENYALAHKAN

Kita sudahi saling menyalahkan. Menengok jauh ke belakang, agar anak panah mampu meluncur jauh ke depan. Dan menajamkan ujungnya, agar tidak kehilangan arah di tengah zaman yang terus berubah.

GENERASI YANG SALING MENYALAHKAN

Gen Z.
Gen Alpha.

Sering kali disebut:
generasi lemah,
manja,
tidak tangguh,
mudah menyerah,
dan terlalu lembut menghadapi kehidupan.

Kalimat-kalimat itu berputar hampir setiap hari di media sosial,
di meja makan,
di tongkrongan orang-orang dewasa,
bahkan di ruang-ruang pendidikan.

Setiap generasi merasa dirinya tumbuh di zaman yang lebih keras.

Dan memang benar.

Orang-orang tua dahulu hidup bersama:
paceklik,
perang,
jalan panjang,
kerja fisik,
dan kehidupan yang begitu dekat dengan tanah dan cuaca.

Sedangkan generasi hari ini tumbuh di tengah:
algoritma,
layar,
informasi tanpa batas,
krisis identitas,
dan tekanan sosial yang bergerak jauh lebih cepat daripada kemampuan batin manusia untuk mengimbanginya.

Bentuk tantangannya berbeda.

Lukanya juga berbeda.

Tetapi sering kali generasi yang lebih tua lupa satu hal:
anak-anak tidak lahir dari ruang kosong.

Mereka tumbuh dari dunia yang diwariskan oleh generasi sebelumnya.

Maka ketika sebuah generasi dianggap lemah,
barangkali itu juga cermin bahwa tongkat estafet kehidupan tidak pernah benar-benar diteruskan dengan utuh.

Karena generasi hari ini dibesarkan oleh:
orang tua yang lelah,
pendidikan yang kehilangan arah,
lingkungan yang bising,
dan dunia digital yang lebih sibuk menjual perhatian daripada membangun kedewasaan manusia.

Generasi muda hari ini tumbuh terlalu cepat sebelum benar-benar selesai mengenal dirinya sendiri.

Mereka mengenal dunia lebih dahulu sebelum mengenal isi hatinya sendiri.

Tetapi menyalahkan generasi muda sepenuhnya juga terasa terlalu mudah.

Sebab generasi sebelumnya pun memiliki kegagalannya sendiri.

Generasi yang dahulu mengkritik materialisme,
akhirnya ikut membangun dunia yang menjadikan uang sebagai ukuran utama keberhasilan.

Generasi yang dahulu berbicara tentang kesederhanaan,
akhirnya ikut melahirkan budaya flexing dan perlombaan status sosial.

Dan generasi yang dahulu mengeluhkan hilangnya adab,
perlahan juga kehilangan waktu untuk benar-benar hadir mendidik generasi berikutnya.

Setiap zaman sebenarnya melahirkan:
gelombang baru,
potensi baru,
dan tantangan baru.

Tidak ada generasi yang sepenuhnya gagal.

Tidak ada pula generasi yang sepenuhnya sempurna.

Karena manusia selalu tumbuh bersama zamannya masing-masing.

Dan pada akhirnya,
setiap manusia tetap memiliki satu hal yang tidak bisa diwariskan begitu saja:
kesadaran untuk memilih jalan hidupnya sendiri.

Sebab dunia akan terus berubah.

Teknologi akan terus bergerak.

Generasi akan terus berganti.

Tetapi manusia tetap memiliki pilihan:
ikut hanyut bersama arus zamannya,
atau tetap menjaga hati dan akalnya agar tidak kehilangan arah di tengah perubahan dunia yang terus bergerak cepat.

Dan lucunya,
setiap generasi sibuk menyalahkan generasi setelahnya,
sementara diam-diam gagal mengakui:
bahwa dunia yang diwariskan hari ini,
adalah hasil dari tangan mereka sendiri.

Kita sudahi saling menyalahkan.

Mari menemukan kesadaran dalam diri masing-masing.

Menengok jauh ke belakang,
agar anak panah dapat diluncurkan lebih jauh ke depan.

Dan menajamkan ujungnya,
agar mampu menembus zaman,
melampaui ketakutan,
serta kedalaman hidup yang terus berubah dari generasi ke generasi.