NEGERI cEMAS : OJO SEMBRONO
Sembrono adalah bertindak gegabah, ceroboh, dan merasa cukup tahu sebelum benar-benar memahami persoalan. Ia lahir dari kebiasaan meremehkan akibat, mengabaikan risiko, dan mengambil keputusan tanpa sungguh-sungguh menimbang dampaknya bagi orang lain.
Negeri ini sudah tidak muda lagi.
Ia telah melewati berbagai musim:
kerajaan dan republik,
krisis dan kebangkitan,
tumpah darah dan pengorbanan,
pergantian kekuasaan dan janji pembangunan,
dan generasi demi generasi yang datang lalu pergi.
Tetapi ada satu kebiasaan yang terasa sulit berubah.
Kita sering mengelola sesuatu dengan sembrono.
Tidak memahami persoalan,
tetapi merasa paling mengerti.
Tidak memiliki keahlian,
tetapi merasa pantas memimpin.
Tidak mampu mengerjakan,
tetapi sibuk mengatur.
Di negeri ini,
kompetensi sering kalah oleh kedekatan.
Keahlian kalah oleh kepentingan.
Pengetahuan kalah oleh keberanian berbicara.
Kepalsuan tidak lagi menjadi sesuatu yang memalukan.
Ia bisa disembunyikan oleh jabatan.
Ditutupi oleh gelar.
Dibungkus oleh pencitraan.
Bahkan sesekali diberi panggung dan tepuk tangan.
Lalu manusia yang seharusnya belajar,
merasa tidak perlu lagi belajar.
Manusia yang seharusnya mendengar,
lebih sibuk berbicara.
Dan manusia yang seharusnya memikul amanah,
lebih sibuk menikmati kehormatan yang datang bersama amanah itu.
Jadi teringat sebuah sabda Rasulullah SAW:
"Apabila suatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu."
Barangkali sabda itu bukan sekadar nasihat agama.
Ia juga hukum kehidupan.
Sawah yang dikelola orang yang tidak memahami musim akan gagal panen.
Kapal yang dikendalikan orang yang tidak memahami lautan akan mudah karam.
Rumah yang dibangun tanpa pondasi akan retak sebelum waktunya.
Dan sebuah negeri yang terlalu lama mengabaikan keahlian,
perlahan kehilangan arah meski jalannya masih terlihat ramai.
Yang lebih mengkhawatirkan,
persoalan ini tidak hanya hidup di ruang kekuasaan.
Ia hidup dalam kesadaran masyarakatnya sendiri.
Kita sering meninggikan seseorang tanpa benar-benar mengenal kemampuannya,
tanpa peduli bagaimana posisi itu diperoleh.
Kita mudah terpesona oleh kemewahan,
tetapi malas memeriksa kualitas.
Kita lebih suka suara yang keras,
daripada pikiran yang matang.
Kita memberi ruang bagi kepentingan,
lalu heran ketika kepentingan tumbuh lebih besar dari kepentingan bersama.
Dan semua itu berlangsung selama puluhan tahun.
Sedikit demi sedikit.
Hingga menjadi kebiasaan.
Hingga dianggap wajar.
Hingga tidak lagi terasa sebagai masalah.
Padahal persoalan ini bukan persoalan ringan.
Ia bukan sekadar kesalahan administrasi.
Bukan sekadar kegagalan program.
Bukan sekadar pergantian pejabat atau pergantian pemerintahan.
Ia menyentuh pondasi yang jauh lebih dalam.
Menyentuh cara sebuah bangsa berpikir.
Menyentuh budaya.
Menyentuh kesadaran kolektif.
Menyentuh kemampuan masyarakat membedakan:
mana yang layak dipercaya,
mana yang sekadar pandai berbicara.
Demokrasi yang sehat tidak hanya membutuhkan pemilu yang transparan.
Ia membutuhkan masyarakat yang sadar.
Masyarakat yang mampu memilih kualitas di atas popularitas.
Mampu memilih kompetensi di atas kedekatan.
Mampu memilih amanah di atas kepentingan.
Dan itu tidak lahir dalam satu malam.
Ia tumbuh dari keluarga.
Dari sekolah.
Dari budaya.
Dari teladan.
Dari keberanian mengatakan benar ketika benar,
dan salah ketika salah.
Tetapi jika semua itu terus diabaikan,
kerusakan tidak lagi terjadi di permukaan.
Ia masuk ke akar.
Masuk ke cara berpikir.
Masuk ke generasi berikutnya.
Lalu diwariskan sebagai sesuatu yang biasa.
Yang paling menakutkan bukan ketika sebuah bangsa melakukan kesalahan.
Melainkan ketika bangsa itu tidak lagi mampu membedakan mana yang salah.
Ketika kesembronoan dianggap biasa saja dan maklum.
Ketika ketidakmampuan dianggap kewajaran dalam jabatan.
Ketika amanah dianggap kesempatan.
Dan ketika kepentingan pribadi dianggap kepentingan negara.
Dan kadang terlintas pertanyaan yang tidak nyaman.
Apakah sebuah bangsa memang harus jatuh terlebih dahulu untuk belajar?
Apakah manusia harus kehilangan banyak hal sebelum memahami apa yang selama ini diabaikannya?
Aku tidak benar-benar tahu.
Tetapi yang terasa semakin jelas,
arah yang kita tempuh hari ini sering kali menjauh dari perbaikan yang kita bicarakan sendiri.
Bahkan perlahan menjauh dari dasar-dasar yang dahulu disepakati bersama.
Dan jika kelak sejarah menagih pertanggungjawaban itu,
barangkali yang paling berat bukan kerugian yang kita alami.
Melainkan kenyataan bahwa anak cucu harus menanggung warisan yang kita biarkan tumbuh hari ini.
Sudah beberapa dekade kita mengelola negara dengan sembrono.
Ngawur.
Sembrono adalah bertindak gegabah,
ceroboh,
dan merasa cukup tahu sebelum benar-benar memahami persoalan.
Ia lahir dari kebiasaan meremehkan akibat,
mengabaikan risiko,
dan mengambil keputusan tanpa sungguh-sungguh menimbang dampaknya bagi orang lain.
Kesembronoan tidak selalu datang dengan wajah kebodohan.
Kadang ia datang dengan wajah keyakinan yang berlebihan.
Merasa paling mengerti sebelum mendengar.
Merasa paling mampu sebelum belajar.
Merasa paling benar sebelum bercermin.
Tapi ya bukan salah siapa-siapa.
Atau barangkali memang salah kita sendiri.
Karena setiap zaman melahirkan pemimpinnya dari masyarakatnya sendiri.
Kita marah kepada wajah yang muncul di panggung,
sambil lupa bahwa panggung itu dibangun bersama-sama.
Maka yang sedang kita hadapi hari ini bukan hanya krisis kepemimpinan.
Krisis kepercyaan.
Melainkan juga krisis kesadaran.
Dan mungkin para leluhur telah meninggalkan nasihat yang jauh lebih sederhana daripada segala teori dan pidato yang kita dengar hari ini.
Ojo sembrono.
Gemi, nastiti, lan ngati-ati.
Hemat dalam keinginan.
Cermat dalam berpikir.
Dan berhati-hati dalam mengambil keputusan.
Karena banyak kerusakan besar dalam kehidupan,
sering kali tidak lahir dari niat jahat.
Melainkan dari kesembronoan yang dibiarkan tumbuh terlalu lama.