Dari Pengorbanan ke Empowerment

Generasi larva Seri#1 Konsep Kunci

Dari Pengorbanan ke Empowerment

Image by Johnhain from Pixabay

SM Damar Panuluh

Founder of symbolic.id.

Pecinta teka-teki Observable World.

 

Lewat internet, saya coba masuk ke KBBI dan cari definisi dari kata ‘pengorbanan’. Hasilnya, “proses, cara perbuatan mengorbankan”. Dikejar, apa arti kata ‘mengorbankan’ ? Hasilnya, “1. Memberikan sesuatu sebagai pernyataan kebaktian, kesetiaan, dan sebagainya. 2. Menjadikan sesuatu sebagai korban”.

Sudah hampir ga terima dengan definisinya, kalau tidak ada kata “dan sebagainya”. Kata itu membuat pengorbanan menjadi luas lagi. Hewan bisa lagi berkorban tanpa motif-motif kebaktian, kesetiaan, yang terdefinisi seperti konsep manusia. 

Abstraksi.

Dengan kemampuannya menggunakan bahasa, manusia memiliki dunia tambahan, dunia abstraksi, yang tidak dimiliki hewan. Perlu kita bedakan konsep “bahasa” dan “komunikasi”. Komunikasi diartikan sebagai pengiriman dan penerimaan informasi dari dua entitas. Di dalamnya ada dua moda utama. Bahasa dan signal. 

Signal. Semua makhluk hidup yang bisa bergerak, musti bisa berkomunikasi satu dengan yang lain, minimal dengan lingkungan sekitarnya. Komunikasi ini bisa lewat medium suara, warna, reaksi kimia dan lain sebagainya. Ini yang disebut signaling. Informasi yang ditukar bersifat immediate, saat itu juga. Rentang waktunya relatif pendek. Suara ayam kalau ada ancaman ular akan berbeda dengan suara ketika ada ancaman burung. Tapi tidak pernah sekalipun ayam mengeluarkan suara itu jika tidak ada ancamannya. Ini yang dimaksud dengan rentang pendek. Ada contoh lebih panjang, kawanan singa perlu membuat signal satu sama lain ketika harus mengkoordinasi perburuan. Komunikasi ini bisa lebih lama, sampai setengah jam. Tapi tidak akan dilakukan juga ketika para singa sedang leyeh-leyeh santai.

 

Bahasa memecah limitasi waktu ini. Bahasa punya simbolisme yang komprehensif terhadap dunia yang dialami makhluk. Kejadian 10 tahun yang lalu bisa diceritakan dengan cukup detail melalui medium bahasa. Yang sudah-sudah bisa direkonstruksi sedemikian rupa melalui simbolisme-simbolisme yang (heuristically) cukup detail. Ini melahirkan dunia lain yang unik di manusia. Dunia ide.

 

Empowerment of idea.

Pemahaman diatas penting untuk ‘menerjemahkan’ Hamilton’s rule “ rB > C ” ,  pada level manusia.

Konsep “r”. Kata kunci pada definisi hamilton atas “r” adalah ‘kedekatan genetik’. Karena memang pada dunia fisik makhluk hidup, genetik menjadi fondasi dasar. Pada dunia abstraksi manusia, ada fondasi lain yang disebut sebagai ‘ide’. Disini “r” berarti berlaku pada kedekatan ‘ide’. Ketika ‘ide’ yang dibawa si C dibantu oleh B, maka ide itu akan punya kesempatan untuk terus hidup. 

Contoh sederhananya. ketika si B ingin membeli sebuah barang, uang yang diberikan akan menjadi energi potensial untuk penjualnya. Katakanlah ada 2 penjual, C dan D. Si C lebih suka pada ide altruis. Sedangkan si D lebih suka ide selfish. Jika si B membeli dari si C, maka ide altruis akan lebih punya kesempatan hidup. Jika si B membeli barang dari si D maka ide selfish akan lebih punya kesempatan hidup. 

Membeli barang biasanya tidak dimasukkan dalam konsep pengorbanan. Tapi jika proses jual-beli ini disertai konsep ‘empowerment of idea’ tersebut, maka harga tidak lagi menjadi satu-satunya parameter. Si B bisa saja membeli sedikit lebih mahal dari X, tapi si B juga memastikan ide yang dia percayai untuk menjadi tumbuh lebih besar. Dengan kata lain, keputusannya membeli di hari ini ikut membentuk keadaan di masa depan. 

Pada sisi lain, di mata saya, bullshit kalau teriak-teriak anti kapitalisme tapi masih ogah memprioritaskan membeli barang dari tetangga / saudara sepemikiran sendiri. (Tentu ini versi simplenya).

Komponen

Konsep lebih total daripada jual-beli tentu ada. Ada sedekah, crowd funding, dan lain sebagainya. Dan yang sudah berjalan sangat baik diteruskan. 

Perlu dilihat disini, semua contoh diatas masih bersandar pada resources yang terlihat. Yang ini mengandung limitasi. Tidak semua orang bisa ikut serta, karena jumlah kepemilikan resources yang berbeda pada tiap orang. Ada yang mampu bersedekah atau membeli barang jutaan rupiah. Sedang yang lain untuk dirinya sendiri saja kembang-kempis.

Perlu tambahan komponen lain yang dimiliki semua manusia secara merata, sehingga gotong-royong pengorbanan ini bisa dilakukan secara masif dan punya proyeksi jelas ke masa depan. Disini saya mengusulkan komponen : ‘perspektif’ dan ‘waktu’. Dua komponen ini juga erat dengan fondasi dasar, yaitu dunia ide yang dihuni manusia.

Setiap manusia pasti memiliki perspektif uniknya. Di dalam perspektif terkandung ilmu pengetahuan, moral conditioning, pengalaman, dll dari manusia tersebut..

Setahu saya manusia seluruh dunia juga punya modal yang sama. 24 jam