KAPAL YANG BOCOR

Dan rakyat hanya bisa menonton. Mengeluh. Menertawakan. Membuat meme. Lalu melanjutkan hidup seperti biasa.

KAPAL YANG BOCOR

Negeri ini sedang lucu-lucunya.

Setiap hari selalu ada sesuatu yang bisa ditertawakan.

Pernyataan yang berubah keesokan harinya.

Kebijakan yang tampak tegas di depan kamera,
lalu kehilangan arah ketika bertemu kenyataan.

Blunder demi blunder menjadi tayangan harian.

Kadang sampai sulit membedakan:
apakah kita sedang menonton berita,
atau pertunjukan komedi yang terlalu panjang.

Di warung kopi,
orang-orang menertawakannya.

Di grup WhatsApp keluarga,
ia menjadi bahan kiriman setiap pagi.

Di media sosial,
potongan-potongan video diputar berulang kali.

Manusia tertawa.

Membuat lelucon.

Membuat meme.

Membuat parodi.

Karena kadang-kadang,
tertawa adalah cara paling murah untuk bertahan dari kenyataan yang terasa terlalu melelahkan.

Mungkin itulah yang membuat negeri ini terasa lucu.

Bukan karena keadaannya benar-benar lucu.

Melainkan karena banyak hal sudah terlalu sulit dijelaskan dengan akal sehat.

Ketika sesuatu yang seharusnya memalukan dianggap biasa.

Ketika sesuatu yang seharusnya serius menjadi hiburan.

Dan ketika manusia lebih mudah tertawa daripada berharap.

Media mungkin punya andil.

Karena kabar buruk memang lebih mudah menarik perhatian.

Tetapi tidak semua bisa disalahkan pada media.

Sebab sebagian besar yang ditampilkan memang benar-benar terjadi.

Seakan-akan zaman sedang membuka topeng manusia satu per satu.

Dan rakyat hanya bisa menonton.

Mengeluh.

Menertawakan.

Membuat meme.

Lalu melanjutkan hidup seperti biasa.

Tetapi semakin lama aku berpikir,
persoalannya ternyata lebih rumit.

Karena negeri ini bukan hanya memiliki nahkoda yang kadang kehilangan arah.

Ia juga dipenuhi penumpang yang sibuk melubangi kapalnya sendiri.

Kita marah pada korupsi,
tetapi masih kagum pada kekayaan yang tidak jelas asalnya.

Kita marah pada kebohongan,
tetapi masih menikmati kebohongan yang menguntungkan diri sendiri.

Kita marah pada kesembronoan,
tetapi sering kali hidup sembrono dalam ruang kita masing-masing.

Kita marah kepada pemimpin yang tidak amanah,
tetapi amanah kecil dalam kehidupan sehari-hari pun sering kita abaikan.

Mungkin itulah sebabnya negeri ini terasa seperti lingkaran yang berulang.

Masalah datang dan pergi.

Wajah berganti.

Slogan berganti.

Kebijakan berganti.

Tetapi kegelisahan yang sama terus kembali.

Ini bukan persoalan satu orang.

Bukan persoalan satu kelompok.

Bukan pula persoalan satu periode kekuasaan.

Ini adalah wicked problem.

Masalah yang saling terkait satu sama lain.

Ketika satu kebocoran ditutup,
kebocoran lain muncul di tempat berbeda.

Karena yang bocor bukan hanya sistem.

Tetapi juga kesadaran.

Negeri ini sebenarnya dipenuhi manusia-manusia baik.

Aku masih percaya itu.

Terlalu banyak orang jujur.

Terlalu banyak orang pekerja keras.

Terlalu banyak orang yang setiap hari berjuang demi keluarganya.

Pedagang yang membuka toko sejak pagi.

Petani yang tetap ke sawah meski harga hasil panennya tak menentu.

Buruh yang pulang malam.

Guru yang tetap mengajar.

Orang tua yang tetap bekerja meski tubuhnya tidak lagi muda.

Mereka masih ada.

Mereka jauh lebih banyak daripada yang sering muncul di layar-layar kita.

Tetapi kebaikan yang diam sering kalah ramai dari keburukan yang terorganisir.

Barangkali itulah yang membuat banyak manusia mulai lelah.

Bukan karena mereka tidak mencintai negerinya.

Melainkan karena mereka melihat kerusakan dari terlalu dekat.

Melihat orang baik tersingkir.

Melihat orang pandai tidak didengar.

Melihat orang yang berteriak paling keras justru paling sering mendapat panggung.

Dan perlahan manusia mulai kehilangan harapan.

Tetapi kapal ini masih berlayar.

Entah menuju badai,
entah menuju pelabuhan yang lebih baik.

Dan selama masih ada manusia yang memilih jujur ketika bisa berbohong,
memilih amanah ketika bisa mengambil keuntungan,
dan memilih memperbaiki dirinya sebelum sibuk memperbaiki orang lain,

barangkali kapal ini masih memiliki harapan.

Meski kecil.

Meski sering tidak terlihat.

Karena kapal besar tidak tenggelam hanya karena ombak di luar.

Ia tenggelam ketika terlalu banyak kebocoran di dalamnya yang dibiarkan menjadi biasa.